Pengantin Pesanan, ‘Bisnis’ Menggiurkan


Pengantin Pesanan, ‘Bisnis’ Menggiurkan

Singkawang, Kalbar —Pintu pagar belakang rumah Eka Tjiu (35) tertutup rapat. Syarial, Ketua RT 01/09 Desa Pemangkat Kota Kabupaten Sambas bersama anaknya yang mendampingi rakyatborneo.com berusaha memanggil sang pemilik rumah. “Eka….! Eka….! Ada yang nyari,” teriak anak Ketua RT itu berkali-kali.

Sekitar lima menit lamanya Syarial dan putranya berteriak memanggil, namun tetap tidak terdengar jawaban dari dalam rumah berdinding papan itu. Melihat tidak ada jawaban dari dalam rumah, kami hampir saja hendak meninggalkan rumah tersebut. Ketika hendak beranjak pergi, pintu pagar rumah terbuka. Seorang perempuan paruh baya keluar dari balik pintu. Perempuan tersebut terperanjat kaget dan kebingungan melihat kedatangan tamu yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dia terpaku, tidak berbicara dan hanya menatap kami. Perempuan berusia di atas 50 tahun ini memang tidak bisa berbahasa Indonesia. Syarial, Ketua RT 01 ini langsung mencairkan suasana. “Eka ada? Ada yang mencari,” tanyanya. “Hah ! Eka, tak ada,” jawab perempuan itu. Belakangan kami tahu ia bernama Fransiska.

Mendengar Eka tidak berada di rumah, kami hampir hendak meninggalkan rumah itu. Tapi tiba-tiba, keluar seorang perempuan berkaos merah dari balik pagar. “Itu Eka, bilangnya tidak ada,” seru Syarial.

“Ada apa ya nyari saya?” tanya Eka dengan suara gugup.

“Suruh masuklah dulu, tamu tuh !” perintah pak RT.

Saya pun akhirnya dipersilahkan masuk ke dalam pagar rumahnya. Sementara Syarial dan anaknya kembali ke rumah mereka.

Eka Tjiu, perempuan kelahiran 11 Agustus 1981 ini merupakan salah satu amoy – sebutan bagi perempuan Thionghoa—korban pernikahan pesanan dengan pria Taiwan. Dia sempat menikah dengan Pria Taiwan bernama Miao Li Sheng pada 16 Maret 2015 lalu. Eka merupakan perempuan kelahiran Pemangkat, Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Desa Pemangkat ini berjarak sekitar 30 km dari Kota Singkawang.

Mencari rumah Eka, gampang—gampang susah. Sebab Desa Pemangkat Kota begitu padat permukiman penduduknya. Kapuas Post harus menyusuri jalanan gang dengan permukiman yang sangat padat. Rumah Eka berada di tengah gang. Saya mengetahui rumah Eka dari Syarial, Ketua RT 01/ RW 09. Sang RT inipun nyaris lupa dengan warganya yang bernama Eka. Sebab Eka tidak pernah terlihat olehnya. Bahkan Ketua RT ini pun mengaku tidak mengetahui persoalan yang dialami Eka. Syarial juga mengaku tidak tahu jika Eka pernah menikah dengan Pria Taiwan. Keluarga Eka memang sangat tertutup.

***

Setelah masuk ke halaman belakang rumahnya, Eka mempersilakan saya duduk di kursi kayu depan pintu dapur rumahnya. Rumah Eka terbilang kecil. Berdindingkan dan berlantaikan papan. Rumahnya pun begitu berdekatan dengan rumah tetangga. Halaman rumahnya sangat sempit. Eka merupakan anak kedua dari pasangan Tjiu Se Moi dan Fransiska. Dia lima bersaudara. Di kampungnya, keluarga Eka terkenal tertutup.

“Ini dari Pontianak ya? Dari Polda apa ini?” tanya Eka.

Setelah menjelaskan tujuan saya bertandang ke rumahnya. Perempuan berwajah oval itu mulai bercerita pengalaman pahitnya menikah dengan Pria Taiwan. Suaranya terdengar bergetar saat dia memulai bercerita. Terlihat tegang. Mimik dan raut mukanya menyiratkan duka. Luka teramat dalam.

Wajahnya memerah. Ekspresinya, seperti orang baru saja mengangkat sebuah beban. Beban teramat berat. Namun dia terlihat pasrah pada takdir yang kurang berpihak padanya. Tatapannya kosong, matanya berkaca-kaca. Dia terdiam sesaat dan tampak mengingat sesuatu.

“Bukan saya tidak mau cerita ya, soalnya inikan sudah lama kejadiannya. Sudah satu tahun lebih, tentunya sekarang saya trauma. Terus malukan,” ucapnya dengan suara bergetar.

Kembali Eka terdiam sesaat. Matanya semakin berkaca-kaca. Tampak tetes air matanya mulai mengalir di sela-sela pipinya. “Aduh !” serunya. Tangannya refleks mengusap air mata. “Saya berasal dari sini,” ucapnya. Ia kembali terdiam ketika anaknya menyaksikannya menangis.

Eka pun menyuruh anaknya yang SMP tersebut masuk ke dalam rumah. Sebelum menikah dengan Pria Taiwan, Eka merupakan janda beranak satu. Setelah anaknya masuk. Eka kembali mencoba melanjutkan ceritanya. Eka mengenal Miao Li Sheng, pria asal Taiwan berawal dari perkenalan kakaknya, Penny yang bekerja di Hongkong. Penny mengenal Miao Li Sheng dari Fuili, amoy Singkawang yang tinggal di Taiwan. Fuili ini menikah dengan Pria Taiwan dan menetap di negeri itu. Perkenalan Penny dengan Fuili terjadi melalui akun facebook.

“Saya punya teman cowok, asal Taiwan. Coba kamu jodohkan dengan adikmu,” tutur Eka. Ia menirukan pesan messenger Fuili yang dikirimkan pada Penny.

Mendapat tawaran ini, Penny kemudian menawarkannya pada Eka, adik pertamanya tersebut. Eka pun bersedia untuk berkenalan terlebih dahulu dengan pria Taiwan itu. Akhirnya, saat Tahun Baru Imlek 2015 lalu, Mio Li Sheng (Pria Taiwan), Fuili (comblang Taiwan) bersama suaminya dan Abui, pria Tionghoa asal Singkawang. “Saya lupa hari kejadiannya. Sudah lama juga. Tapi kalau tidak salah waktu Cap Go Meh tahun 2015,” ucap Eka. Matanya masih berkaca-kaca.

Eka kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Keningnya berkerut, tatapannya terlihat menerawang. Dia tampak mengingat-ingat kejadian yang dialaminya dengan pria Taiwan itu. “Waktu suami saya (Miao Li Sheng-red) bersama Fuili, suami Fuili dan Abui sampai di sini (Pemangkat-red), saya pun mengajak suami saya keliling Pemangkat,” tutur Eka melanjutkan ceritanya dengan suara bergetar seolah menahan sedih.

Setiap kali menyebut pria Taiwan tersebut, Eka selalu memanggilnya dengan panggilan suami saya. Eka memang merasa Miao Li Sheng adalah suaminya. Sebab sampai sekarang, menurut cerita Eka, dia dan suaminya belum bercerai. Eka ditinggal begitu saja oleh Miao Li Sheng. Setelah beberapa hari di Pemangkat, karena Eka merasa cocok bersama Miao Li Sheng, akhirnya Eka pun menerima lamaran pria Taiwan itu.

“Sebenarnya aku ingin menolak lamaran dia. Karena aku merasa kok cepat banget dia melamar aku, padahal kan aku janda,” katanya.

Tapi atas nasehat dari kakaknya, Penny yang menyarankan agar Eka menerima saja pria Taiwan itu. Dengan alasan untuk memperbaiki ekonomi keluarga mereka yang hidup serba kekurangan, dan atas desakan dari Fuili agar mereka segera bertunangan, akhirnya Eka menerima lamaran Miao Li Sheng. Eka dan Miao Li Sheng akhrinya melangsungkan tunangan mereka di Singkawang, tepatnya di rumah orangtuanya Fuili.

“Awalnya saya lihat suami saya itu bagus orangnya, ramah dan baik sama anak saya. Rasanya aman saya bersama dia, jadi saya pikir kenapa harus ditolak,” ceritanya.

Setelah melangsungkan pertunangan di Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Singkawang yang dilanjutkan acara makan-makan di rumah orangtua Fuili di Jalan Bun Fui. Eka bersama Miao Li Sheng akhirnya menginap di salah satu hotel di Kota Singkawang. Eka menceritakan, dalam adat mereka, jika sudah tunangan maka sudah sah seperti menikah sehingga mereka boleh menginap bersama di hotel.

Mereka pun menginap selama seminggu di salah satu hotel di Singkawang. Setelah seminggu bersama, Miao Li Sheng akhirnya berpamitan pada Eka untuk kembali ke Taiwan. Untuk sementara, Eka tidak ikut serta bersama Miao Li Sheng ke Taiwan. Eka harus tetap berada di Pemangat sambil menunggu administrasi untuk pergi ke Taiwan yang diurus oleh Heni di Jakarta selesai.

“Kalau mau pulang ke Taiwan dulu, ya pulanglah, aku tunggu di sini. Saya tidak akan kemana-mana, saya kan tunangan kamu,” ucap Eka pada Miao Li Sheng saat itu.

Miao Li Sheng akhirnya pulang ke Taiwan. Begitu juga Fuili dan suaminya juga kembali ke Taiwan. Selama kembali di Taiwan, Miao Li Sheng sering menghubungi Eka untuk menanyakan kabarnya. Dua bulan kemudian, Fuili menelepon Eka. Fuili mengabarkan bahwa suami Eka akan segera ke Jakarta. Fuili pun meminta Eka berangkat ke Jakarta menemui suaminya itu. “Pergilah saya ke Jakarta dengan ongkos yang ditanggung suami saya,” ujarnya.

Sesampai di Jakarta, Eka bertemu dengan suaminya di Hotel Amaris. Dua hari di hotel, hubungan Miao dengan Eka baik-baik saja. Namun di hari ketiga, saat Eka akan diinterview oleh Kedubes sebelum keberangkatannya ke Taiwan, terjadi pertengkaran antara mereka. Pertengkaran keduanya berawal dari ketika Miao berbincang dengan Heni, orang yang bertugas mengurus administrasi keberangkatan Eka ke Taiwan, seperti paspor dan lainnya.

Eka bercerita, di depan suaminya, Heni memperlihatkan foto-foto Amoy yang terlihat masih muda. Mereka pun berbincang dengan Bahasa Mandarin dan tidak dimengerti oleh Eka. Dari perbincangan itu, lanjut Eka bercerita, tampaknya suaminya tertarik pada salah satu Amoy yang fotonya diperlihatkan oleh Heni.

“Ya, laki-laki mana sih yang tidak tertarik hati dengan perempuan yang masih muda-muda. Perempuan-perempuan di foto itu semuanya lebih muda dari saya,” tuturnya. Setelah melihat foto para Amoy yang diperlihatkan oleh Heni, malam harinya Miao meminta izin pada Eka untuk keluar sebentar. “Saya tanya mau kemana? Dia hanya menunjuk saja tanpa memberi tahu mau kemana,” katanya.

Miao pun pergi meninggalkan Eka sendirian di hotel selama dua jam lebih. “Saya rasa suami saya menemui Heni di luar hotel sana. Saya heran juga, dia kan tidak tahu Jakarta tapi kok berani pergi sendirian. Pastilah dia bersama Heni,” beber Eka. Ia terlihat mulai tenang bercerita.

Tepat pukul 22.00, Miao Li Sheng kembali ke hotel. Anehnya, sampai di hotel Miao tiba-tiba marah. Sambil menelepon, Miao terdengar marah-marah dengan orang yang ia telepon. “Heran saya tiba-tiba marah. Menelepon di kamar mandi dan terdengar marah-marah. Saya tidak mengerti apa yang dia bicarakan, saya tidak mengerti bahasanya,” ucap Eka.

Melihat suaminya marah terus menerus, akhirnya Eka memutuskan menghubungi kakaknya, Penni di Hongkong untuk menanyakan ada masalah apa pada suaminya. Tapi ketika ditelepon, kakaknya di Hongkong inipun tidak mengetahui permasalahan yang dialami Miao.

Pagi harinya, datanglah Heni dan Abui ke hotel menemui Miao dan Eka. Di lobi hotel, Heni, Abui dan Miao berbincang dengan Bahasa Mandarin. Kemudian, tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba Abui, Heni memarahi Eka. Mereka mengatakan Eka telah menipu Miao. Tidak hanya Heni dan Eka, Miao pun ikut memarahi Eka. “Saya tanya saya tipu apa? Saya masih ada di hotel, tidak kemana mana!” tanya Eka pada ketiga orang tersebut.

Kemudian Abui mengatakan, Miao marah dengan perkataan yang diucapkan Eka. “Saya bingung, saya salah ngomong apa?” ceritanya.

Namun, baik Heni, Abui dan Miao tidak menjelaskan apa kesalahan yang telah dilakukan Eka. “Saya tanya pada mereka, ada apa sih, marah-marah. Saya tidak ngerti bahasa kalian. Kenapa semuanya pada keroyok marahin saya,” tanya Eka pada ketiganya. Eka tak mendapat jawaban jelas.

Mereka—lanjut Eka—menganggap saya telah menipu Miao. Eka pun semakin tidak mengerti, dirinya menipu apa pada Miao. “Kalau pun saya ngomong salah, suami istri kan bisa saling memaafkan. Tapi saya rasa, mereka memang mencari-cari alasan karena suami saya seperti menginginkan perempuan lain,” ujarnya.

Saat memarahi Eka, Abui, pria Tionghoa asal Singkawang itu sempat berkata, ‘Suami kamu itu kawin kamu mahal, Rp120 juta’. “Abui bilang begitu pada saya, padahal saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak terima apa-apa selain cincin, gelang dan kalung serta uang yang diberikan pada mama saya sebesar Rp10 juta,” cerita Eka.

Abui pun mengancam akan melaporkan Eka ke polisi dengan tuduhan telah menipu Miao, jika Eka tidak mengganti kerugian yang dialami Miao. “Kenapa saya harus ganti rugi? Saya kan tidak kemana-mana, saya di sini,” kata Eka membela diri di depan Abui.

Kemudian Abui kembali mengancam Eka, akan memanggil pengacara kalau Eka tidak bisa mengganti rugi. “Saya pun jadi tertekan karena dikeroyok mereka. Saya juga malu dimarah-marah di hotel. Saya nangis waktu itu. Kemudian saya bilang, kalau begini, saya tidak mau di-interview,” katanya.

“Apalagi yang mau diinterview. Sudah batal, cerai,” jawab Miao.

“Saya kaget-lah mendengar itu. Eeh, kok kayak kekanak-kanakan kalian ya. Kayak permainan. Saya nangis dan minta minta pulang ke Singkawang waktu itu,” ceritanya.

Akhirnya, Eka pun pulang ke Singkawang. Anehnya, batal berumahtangga dengan Eka, Miao bukannya kembali ke Taiwan. Namun dia ikut pergi ke Singawang satu pesawat dengan Eka. Kemudian saat Eka kembali ke Pemangkat, Miao tetap berada di Singkawang. “Saya dengar, dia menginap beberapa hari di Singkawang. Kabarnya, suami saya itu sekarang sudah menikah dengan Amoy Singkawang,” ujarnya.

Sesampai di Pemangkat, keluarga Eka pun kaget mengapa Eka datang sambil menangis. Eka pun bercerita pada ibu dan adiknya. Atas saran kakaknya di Hongkong, Eka akhirnya melaporkan kasus ini ke

Lembaga Bantuan Hukum Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH PEKA) Kalbar.

“Saya takut terjadi apa-apa dengan saya, karena menuntut saya ganti rugi Rp10 juta. Darimana saya dapat uang itu, saya tidak ada uang,” keluhnya.

Bersama dengan Direktur LBH PEKA Kalbar, Rosita Nengsih, Eka pun melaporkan kasus yang dialaminya ke Polres Singkawang. Namun sayangnya, sampai saat ini, kasus yang dialami Eka ini belum ada penyelesaiannya.

Kata Eka, semenjak kejadian kegagalannya berumahtangga dengan pria Taiwan, dirinya lebih memilih mengurung diri di dalam rumah. Dia mengaku masih trauma dengan kasus yang dialaminya itu. Sedihnya lagi, sampai sekarang Eka belum diceraikan oleh Miao secara resmi. Miao hanya menceraikan Eka dengan tidak resmi. Statusnya di Pengadilan Negeri Singkawang masih tetap sebagai istri Miao. “Status saya tetap istrinya. Kasihankan saya sama sekali tidak diceraikan dia (Miao) secara resmi. Dia tidak mau tahu, tidak tanggung jawab. Sakit perasaan saya,” ucapnya. Wajahnya kembali memerah menahan tangis.

Kini, tidak banyak yang Eka harapkan dari Miao. Dia hanya menginginkan tanggung jawab dari Miao untuk menjelaskan statusnya. “Saya minta tanggung jawab dia, jelaskan status saya. Terus selama setahun lebih, dia tidak pernah kasih saya tunjangan. Saya sekarang jadi trauma seumur hidup, jadi tidak berani nikah lagi. Pokoknya saya minta dia tanggung jawab saya menuntut hak saya,” katanya.

Eka mengaku tidak mengetahui Fuili, Abui dan Heni merupakan comblang yang memang berperan mencari Amoy untuk dinikahi oleh pria Taiwan. “Saya tidak tahu kalau ini bohong-bohongan. Kalau tahu, saya tidak mau pak,” katanya pada Kapuas Post.

Eka pun menceritakan, saat bertunangan dengan suaminya di rumah orangtuanya Fuili, mamanya Fuili pernah menawari dirinya untuk mencarikan Amoy yang mau menikah dengan pria Taiwan. “Di Pemangkat ada cewek ndak, kalau ada bolehlah kamu jodohin dengan orang Taiwan, orang China. Nanti aku kasih komisi,” ucap Eka mengulang perkataan mama Fuili padanya.

Eka menolak tawaran itu. Dia menganggap tawaran itu tidak baik untuk orang-orang. “Untuk apa sih, bukan untuk kenyang seumur hidup kan uangnya. Saya tidak mau mencarikan perempuan untuk menikah dengan pria Taiwan,” tegas Eka.

Setelah mendapat informasi alamat rumah Fuili dari Eka, saya pun langsung mencari alamat rumah Fuili di Jalan Bun Fui.  Rumah kopel bercat putih. Rumah paling ujung dari sederet rumah kopel. Di sebelah rumah ini, ada taman bunga yang tidak begitu luas. Di halaman depan, terpakir Avanza berwarna hitam. Pintu rumah itu terbuka. Mengetahui ada tamu yang datang, keluarlah seorang pria berusia 25 tahun dari dalam rumah. Ia bernama Pimoi.

Tidak ada nama Fuili yang disebut oleh Pimoi saat dia menyampaikan nama-nama anggota keluarga di rumah ini. Merasa penasaran, saya pun mencoba bertanya apakah Pimoi mengenal Fuili yang kabarnya tinggal di Jalan Bun Fui. Pimoi mengaku tidak mengenalnya, bahkan mengaku tidak pernah mendengar nama Fuili.

Begitu juga saat ditanya kisah-kisah pernikahan antara Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan, Pimoi mengaku tidak mengetahuinya. Dia hanya menjawab sepatah dua patah kata ketika ditanya. Kapuas Post balik rumah Eka di Pemangkat untuk meminta petunjuk alamat lengkap Fuili. Sesampai di rumah Eka, saya menunjukkan foto rumah yang baru saja kami datangi.

“Iya, benar itu rumahnya Fuili. Di sebelahnya ada taman bunga,” kata Eka setelah melihat foto yang saya perlihatkan.

Setelah memastikan bahwa rumah yang kami datangi itu merupakan rumah Fuili, kami pun kembali ke rumah tersebut. Melihat kami kembali, keluarlah seorang perempuan Tionghoa muda, bersama seorang pria dan perempuan tua yang sebelumnya juga menemui kami.

Kepada perempuan muda yang mengaku bernama Ali itu, saya menanyakan, apakah benar rumah ini merupakan rumah Fuili?

“Kakak mengenal Fuili?” tanya saya lagi.

“Tidak sama sekali,” jawabnya singkat.

Saya kemudian menunjukkan foto Fuili. “Kakak mengenal foto ini? Ini Fuili kan,” tanya saya. Saya bertanya pada perempuan itu sambil menunjukkan sepotong foto di handphone.

“Dapat foto ini dari mana ya,” tanya perempuan itu spontan.

“Berarti kakak mengenal foto inikan. Ini Fuili dan ini rumahnya kan,” kata saya kembali.

Ali terdiam. Sesaat kemudian dia berbicara dalam bahasa Tionghoa dengan suaminya dan perempuan tua tersebut.

“Bapak mau cari dia, maksudnya ada masalah apa gitu?” tanya perempuan itu padaKapuas Post.

Saya pun menjelaskan maksud dan tujuan kami mencari Fuili. Akhirnya, Ali mengakui bahwa Fuili adalah kakak iparnya. “Fuili masih di Taiwan,” jawabnya.

Ali pun mengaku tidak mengetahui kapan Fuili akan kembali ke Singkawang. Dia mengatakan, Fuili sudah lama tidak pulang. Fuili terakhir pulang tahun 2014 dan 2015. Selama tahun 2016 ini, Fuili belum pernah pulang ke Singkawang.

Saat ditanya apakah Ali mengetahui cerita tentang gagalnya seorang Amoy Pemangkat menikah dengan Pria Taiwan, yang pernikahannya difasilitasi oleh Fuili. Ali mengaku tidak tahu. Amoy muda ini juga mengaku tidak tahu banyak tentang cerita pernikahan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan.

“Aku kurang tahu itu. Cari mak comblangnya baru bisa tahu. Saya ndak tahu siapa mak comblangnya di sini,” katanya.

Ali mengatakan Fuili sudah menjadi warga negara Taiwan setelah dia menikah dengan pria Taiwan. Kini, Fuili sudah jarang pulang ke Singkawang.

Dari penuturan Eka juga, kami kemudian mendatangi hotel dimana Eka dan Miao menginap. Kata Eka di hotel ini, banyak sekali dilangsungkan pernikahan antara pria Taiwan dengan Amoy Singkawang. Saat Eka menginap di hotel itu dulu, dia juga menyaksikan sejumlah pasangan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan sedang melakukan foto untuk pernikahan.

Salah seorang resepsionis di hotel itu, membenarkan bahwa banyak pasangan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan atau RRC yang melangsungkan pernikahannya di hotel tersebut. “Di bulan September lalu, ada dua kali pernikahan di sini. Pernikahan itu biasa ada mak comblangnya yang mempertemukan dia dengan amoy Singkawang,” cerita resepsionis itu.

Terkadang, pria Taiwan itu sampai sebulan lamanya menginap di hotel tersebut. Pria Taiwan tersebut akan mencari amoy Singkawang yang mau menikah dengannya sampai dapat. Amoy-nya biasa berasal dari Sedau, Kali Asin Singkawang.

Selain mencoba mencari keberadaan Fuili, saya juga mencoba mencari keberadaan Abui dan Heni. Saya menghubungi nomor handphone Abui, yang di dapat dari salah satu sumber, namun sayangnya nomor tersebut tidak dapat dihubungi. Begitu juga dengan Heni, yang diduga merupakan comblang di Jakarta, nomor handphonenya tidak dapat dihubungi.

Kisah tragis kegagalan menikah dengan pria Taiwan yang dialami Eka merupakan salah satu dari sekian ratus cerita tragis lainnya. Memang, banyak juga dari pasangan pengantin Amoy Singkawang dengan Pria Taiwan ini yang mendapat kebahagian. Tapi, tak sedikit mengalami masalah. Bahkan, ada yang telah meninggal, karena terkena virus HIV/AIDS. Mereka diperdagangkan menjadi PSK, ketika sampai di Taiwan. Ada yang diminta melayani satu keluarga, karena uang untuk mendapatkan amoy diperoleh melalui patungan.

 

Tak sedikit juga yang kehilangan jejak, karena tak ada kabar beritanya. Seperti dialami keluarga Gow Sie Lan di Singkawang. Ia kawin dengan pria Taiwan pada tahun 1982. Hingga sekarang, berita tentangnya tidak pernah terdengar. Pihak keluarganya tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada uang untuk mencari informasi ke Taiwan.

Direktur LBH PEKA Kalbar, Rosita Nengsih menggambarkan permasalahan pengantin pesanan, seperti fenomena gunung es. “Sedikit yang tampak di permukaan, padahal sebenarnya besar sekali jumlahnya,” kata Rosita. Ia mulai mengadvokasi kasus pengantin Amoy Singkawang dengan pria Taiwan tahun 1990 an lalu. Rosita telah menangani lebih dari 11 kasus, yang dialami Eka.

***

Rumah Rosita Nengsih di Jalan U Dahlan M Suka 22 Kota Singkawang, pagi itu, Sabtu (8/10) terlihat lengang saat kendaraan saya memasuki halaman rumahnya. Rosita yang mengetahui kedatangan saya langsung membukakan pintu rumahnya dan mempersilahkan saya masuk ke rumahnya. Pagi itu, kami memang telah berjanji untuk bertemu di rumahnya.

Ibu separuh baya ini merupakan Direktur LBH Peka Kalbar. Lembaganya itu, merupakan salah satu LSM yang rutin mengadvokasi kasus perempuan dan anak. Di Kalbar, terutama di Kota Singkawang, Rosita terkenal sebagai seorang advokat yang selalu membantu Amoy Singkawang, jika mereka mengalami kasus. Biasanya, kasus yang ditangani Rosita adalah kasus traffickhing yang dialami para Amoy Singkawang, setelah mereka menikah dengan pria asal Taiwan.

Fenomena pernikahan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan sudah terjadi sangat lama, dimulai sekitar tahun 1980 an. Fenomena ini berlangsung terus hingga saat ini. Pernikahan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan, biasanya disebut dengan pengantin pesanan. “Hanya saja, sejak tahun 2012, fenomena kasus trafficking pengantin pesanan sudah mulai menurun,” ucap Rosita.

Sambil membuka dokumen yang berisi foto pesta perkawinan, surat akta perkawinan dan dokumen lainnya, Rosita mengatakan, kasus trafficking terakhir yang ditanganinya terjadi pada tahun 2015 lalu. Peristiwa itu dialami Eka, perempuan Tionghoa yang tinggal di Pemangkat Kecamatan Sambas tersebut.

Eka pernah menikah dengan seorang pria Taiwan bernama Miao Li Sheng pada 16 Maret 2015, setelah dicomblangi oleh Fuili, Abui dan Eni. “Abui ini diduga Cangkau (Comblang) di Singkawang. Dia yang membawa Eka ke Singkawang. Sedangkan Fuili, diduga comblang dari Taiwan yang membawa pria Taiwan ke Singkawang. Sementara Eni merupakan orang yang bertugas mengurus administrasi kedatangan Miao ke Singkawang, seperti visa dan paspor. Ini orang-orangnya,” tutur Rosita sambil menunjukan foto Fuili, Abui dan Eni.

Fuili merupakan Amoy Singkawang yang telah menikah dengan Pria Taiwan dan sekarang menetap di Taiwan. Sedangkan Abui merupakan comblang yang tinggal di Singkawang. Sementara Eni tinggalnya di Jakarta.

Perkawinan antara Eka dengan Miao inipun dinyatakan bubar. “Eka pun merasa menjadi korban karena telah terikat perkawinan dengan Miao. Kalaupun Eka mau mengurus perceraiannya, itu butuh biaya. Sementara Eka merupakan orang tidak mampu dalam hal ekonomi,” beber Rosita.

Aktivis perempuan itu mengatakan, seluruh dokumen milik Eka seperti Akta Perkawinan dan lainnya ada di tangannya. Dokumen-dokumen milik Eka itu dimintanya dari Eni. “Sampai hari ini status Eka dan Miao memang belum bercerai,” ujarnya.

Kata Rosita, Miao pria Taiwan ini menyebutkan dia telah menyetor uang Rp120 juta pada ketiga mak comblang untuk perkawinannya dengan Eka. Dari Rp120 juta dana yang diberikan Miao pada Fuili, Abui dan Eni. Eka hanya mendapatkan emas berupa cincin dan gelang. Sementara ibunya Eka hanya diberikan uang Rp10 juta oleh Fuili.

Rosita mengatakan, kasus yang dialami Eka merupakan salah satu kasus dari 100 lebih kasus traffickhing pengantin pesanan yang diadvokasinya. Rosita mulai berkecimpung mengadvokasi kasus traffickhing yang dialami para Amoy Singkawang ini sedang tahun 1995.

“Sudah tidak terhitung kasus traffickhing yang dialami Amoy ini. Rasanya lebih dari 100 kasus yang sudah saya tangani,” katanya.

Rosita mengatakan, di tahun 1990 an dulu, korban traffickhing dari pengantin pesanan yang datang ke kantornya saja, setiap tahun mencapai 10 orang. Rata-rata korban traffickhing ini sudah sampai ke Taiwan. Karena ketidakcocokan dengan suaminya di Taiwan, merekapun kembali ke Singkawang. Rosita menegaskan, para Amoy ini merupakan korban trafficking, karena ada pemalsuan dokumen, menikah tidak saling mengenal, dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dan diiming-imingi bahwa setelah menikah dengan pria Taiwan, mereka menjadi kaya. Karena pria Taiwannya merupakan orang kaya. Tapi begitu sudah sampai di Taiwan, kenyataannya banyak yang berbeda.

“Ada kasus yang pernah saya tangani, seorang Amoy sudah sampai di Taiwan, ternyata dia harus menikah dengan pria Taiwan yang idiot,” bebernya.

Kasus lainnya lagi, lanjut Rosita menceritakan pengalamannya mengadvokasi kasus pengantin pesanan, ada Amoy yang setelah menikah dengan pria Taiwan dan sampai di Taiwan, ternyata Amoy ini tidak hanya melayani seks suaminya. Tapi juga harus melayani seks suami dan adik iparnya. “Amoy tersebut dijadikan prostitusi keluarga,” cerita.

Merasa tidak tahan, Amoy yang dijadikan prostitusi keluarga itu lari ke Singkawang dan melapor ke LBH PEKA. Tapi tidak lama kemudian, dia yang meninggalkan dua anak di Taiwan, akhirnya kembali ke Taiwan dan menikah dengan pria Taiwan lainnya.

Kata Rosita, sejumlah kasus traffickhing pengantin pesanan yang ditanganinya ini, untuk menikahi Amoy Singkawang, biasanya pria Taiwan mengeluarkan dana berkisar Rp60 juta. Dana itu diserahkan pada para comblang. Dari dana yang diberikan pria Taiwan ini, Amoy Singkawang yang menikah dengan pria Taiwan biasanya hanya dapat sekitar Rp 2 jutaan saja. Sekarang, kasus terakhir yang muncul, pria Taiwan ternyata harus mengeluarkan uang Rp120 juta untuk menikahi Amoy Singkawang.

Masih beber Rosita, modus pengantin pesanan ini ada tiga macam. Pertama, pasangan tidak saling mengenal, kemudian dipertemukan dan menikah. Modus kedua, melalui keluarga, misalkan ada Amoy Singkawang yang sudah di Taiwan kemudian mencarikan jodoh untuk keluarganya di Singkawang dengan pria Taiwan, melalui kirim foto. Modus selanjutnya, pria Taiwan berperawakan muda dan ganteng, dimodali oleh perusahaan-perusahaan di Taiwan seperti kafe, diskotik, bar dan tempat prostitusi. Pria Taiwan muda ini diberi modal Rp100 juta untuk pergi ke Singkawang mencari amoy. Sudah jelas pria ini akan mendapatkan amoy yang paling cantik. ”Nanti setelah amoy itu dibawa ke Taiwan, amoy tersebut diserahkan ke perusahaan yang membiayainya, dan harus bekerja di perusahaan ini. Biasanya kemudian dijadikan PSK,” kata Rosita.

Ia menceritakan, sejarah pria Taiwan memilih mencari jodoh amoy Singkawang ini, bermula dari pria Taiwan yang bekerja sebagai tentara. Mereka tidak boleh menikah sebelum pensiun diumur 45 tahun. Setelah pensiun, pria Taiwan ini tidak bisa mendapatkan perempuan Taiwan karena sudah tua. Kemudian mereka mencarilah ke Singkawang. Berawal dari itulah, pengantin pesanan terjadi hingga terjadi tiga modus tersebut. Dari 100 lebih kasus yang ditanganinya, Rosita mengatakan, 25 persen kasus pengantin pesanan dengan modus ketiga, yaitu pria Taiwan ganteng yang dimodali perusahaan.

Para amoy Singkawang bersedia menikah dengan pria Taiwan, dilatarbelakangi faktor kemiskinan yang dialami sebagaian warga Tionghoa di Singkawang. Para amoy berharap, dengan menikahi pria Taiwan, mereka bisa hidup lebih mapan.

Tidak semua pengantin pesanan ini, berujung kisah tragis. Sebagian memang ada yang berhasil. Terbukti, setiap tahun baru imlek, miliaran rupiah uang yang dikirim dari para amoy di Taiwan untuk orangtuanya di Singkawang.

Menurut berbagai sumber, pengantin pesanan ini terjadi berawaldari kunjungan Kadin (Kamar Dagang) Taiwan ke Pontianak, Kalbar di tahun 1980 lalu. Kunjungan tersebut dilanjutkan ke Kota Singkawang yang berjarak 145 km dari Pontianak. Dalam kunjungan itulah, dilangsungkan juga pernikahan. Masyarakat Singkawang, terutama etnis Tionghoa percaya, bahwa mereka satu leluhur dengan masyarakat Taiwan. Sehingga menganggap pernikahan merupakan salah satu cara untuk mengingkat kembali tali persaudaraan.

Namun dalam perkembangannya, pengantin pesanan ini justru dijadikan modus untuk mendapatkan keuntungan oleh sebagian orang. Oknum-oknum inipun memanfaatkan ketidaktahuan soal adanya modus dari pengantin pesanan ini.

Di era 1980 an dulu, si perempuan Singkawang-lah yang datang ke Taiwan. Begitu sampai di Taiwan. Ternyata sudah ada penghubung yang mempertemukan Amoy Singkawang dengan pria Taiwan tersebut. Kemudian, di tahun 1990 an, pria Taiwan yang datang langsung ke Singkawang untuk mencari Amoy. Selanjutnya di tahun 2000 an, pernikanan ini sudah menjadi ajang bisnis para makelar, yang kemudian disebut mak comblang.

Bagi para makelar, apa yang menimpa amoy Singkawang tak layak dipikirkan. Apalagi sampai menghentikan bisnis pengantin pesanan. Dulu, para makelar level kampung (comblang di Singkawang) biasanya mendapat angpau dua juta rupiah setiap kali berhasil mempersembahkan amoy ke pelukan lelaki Taiwan.

Uang lebih besar akan diterima mak comblang yang berhubungan langsung dengan lelaki Taiwan. Makelar pengantin pesanan, setiap menjodohkan uang mengalir ke koceknya antara Rp 40 juta hingga Rp 70 juta. Sedangkan pengantin perempuan dan keluarganya paling banyak mendapat uang lima juta hingga sepuluh juta rupiah. (dea)

 

 

Komentar

Previous Pengurus Gerindra  Baksos di RSUD Melawi
Next Dinikahi Pria Taiwan, Terima Rupiah Hingga Rumah