Petani Kurang Alat Pertanian


Sintang, Kalbar –

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Sintang, Veronica Ancili mengatakan, Sintang masih kekurangan alat pertanian. Antara kebutuhan dengan peralatan yang tersedia tidak sebanding.

“Kita belum bisa membantu banyak. Kebutuhan alat pertanian memang tinggi. Jumlah alat pertanian dengan kelompok tani belum berimbang,” kata Veronica.

Dia mengatakan, seperti traktor tangan. Belum semua kelompok tani memiliki. Padahal sangat dibutuhkan untuk mengolah lahan pertanian. Kebutuhan tersebut seyogyanya mendesak.

Dia mengatakan, pompa air dan embung termasuk kebutuhan pertanian yang masih belum terpenuhi maksimal. Sokongan fasilitas tersebut tidak bisa diabaikan bila ingin memajukan pertanian. Pemerintah, lanjutnya, secara bertahap mengupayakan mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Tidak kalah penting yakni perluasan areal persawahan tiap tahun bertambah. Program cetak sawah yang sudah berjalan, tentu dibutuhkan fasilitas penunjang alat pertanian. Kelompok tani yang mengolah tentu juga perlu disokong agar mampu menghasilkan produksi pertanian dengan baik.

Veronica sangat berharap pemerintah pusat bisa membantu dalam mengatasi kekurangan alat pertanian.

 

Menurut Veronica, seyogyanya produksi pertanian Sintang tidak mengecewakan. Misal seperti di Kelam. Bahkan produksinya bisa swasembada. Hanya pemasaran masih jadi kendala. Produk pertaniannya  baru bisa dipasarkan ke kecamatan terdekat.

Permasalahan pupuk masih jadi kendala. Ia berharap, pupuk tidak menjadi persoalan, karena penting untuk memajukan produksi pertanian.

Bupati Sintang, Jarot Winarno mengatakan, petani harus mampu terus meningkatkan kualitas padi demi menciptakan swasembada pangan. Dia mengatakan, Kecamatan Kelam Permai diharapkan bisa menjadi projek percontohan sawah di Kalimantan Barat.

Secara total keseluruhan Kecamatan Kelam ini mendapatkan jatah 1.600 hektare cetak sawah. “Tentunya kita harus meningkatkan kembali kualitas panen padi guna meningkatkan swasembada pangan,” katanya.

Menurutnya, eksistensi hamparan sawah yang luas masih sangat rendah, tentunya akan dimulai dari intentifikasi untuk meningkatkan swasembada pangan. Sebagai catatan, lanjutnya, rata-rata nasional panen padi satu hektar sawah bisa menghasilkan padi sebesar 5,2 ton beras. Tapi untuk di Sintang masih separuhnya. Yakni satu hektare mampu menghasilkan 2,6 ton.

“Tentunya kita masih produksi, perlu sarana dan prasarana yang baik untuk menciptakan kualitas hasil yang terbaik,” ujarnya.

Menurut Jarot, kini perlu sarana prasarana untuk meningkatkan kualitas para petani, seperti perbaikan jalan, pembuatan irigasi, pemilihan bibit benih yang unggul, metode jarak tanam, dan pengamanan tanaman.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, DN Amat mengatakan, selama ini teknologi yang diperkenalkan pada petani baru teknologi pupuk organik.

Disampaikan Amat, mulai Tahun 2016 Pemkab Sintang sudah menggencarkan perluasan sawah melalui program cetak sawah.

Di Kabupaten Sintang, Tahun 2016, ada 1.515 hektare sawah baru yang dicetak di 10 kecamatan. Kemudian, di tahun 2017, ada 800 hektare sawah yang dicetak di 8 kecamatan.

Dalam program cetak sawah itu lanjut dia, pihaknya juga mensosialisasikan teknologi pertanian ke masyarakat. Beberapa teknologi yang digunakan yakni teknologi sistem hazton, sistem SRI, Pandawa Lima dan lainnya.

 

“Penyuluh kami sudah sampaikan ke petani, sudah banyak daerah persawahan yang jadi percontohan. Seperti di Serawai, Sungai Manan di Kayan dan Desa Merpak di Kecamatan Kelam Permai sampai ke Dedai,” jelas Amat.

 

Komentar

Previous Desa Apin Baru Butuh Polindes
Next Belum Ada Parpol Daftarkan Caleg