• Rabu, 17 Juli 2024. Jam: 06:57

Kadistanbun Sintang Ajak Warga Tanam Bahan Pangan

Sintang, Kalbar – Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang Ir. Elisa Gultom, M. Si turut memberikan pengarahan saat menghadiri kegiatan Temu Lapangan Kelompok Tani Kecamatan Dedai dan Tebelian, di Kebun Kelompok Tani Subur Makmur, Jl. Lintas Dedai, Dusun Gurung Kempadik, RT 01 RW 04, Desa Gurung Kempadik, Kec. Sungai Tebelian, Senin (3/10).

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang  Elisa Gultom menyampaikan bahwa pihaknya sangat senang karena kegiatan lapangan seperti ini bisa dilaksanakan kembali setelah kurang lebih dua tahun tidak bisa dilaksanakan karena pandemi.

“Dalam hal pertanian, kegiatan lapangan seperti ini sangat penting karena kita tidak hanya bicara teori saja tetapi langsung prakteknya. Dengan kegiatan kita hari ini, saya melihat masyarakat kita sudah mulai masuk pada cara bertani yang modern. Buktinya, kita sudah disokong oleh mekanisasi pertanian yang baik. Sudah ada traktor, sarana produksi juga bagus dan modern,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pada kondisi ditahun 2023 akan memilik masalah dalam hal pertanian. Adanya arahan dari Menteri Pertanian Republik Indonesia untuk setiap daerah memacu produktivitas pertanian.

“Penyebabnya adalah adanya tren global sekarang, negara-negara penghasil pangan melakukan pengurangan ekspor bahan pangan dan mereka menimbun untuk kepentingan dalam negeri mereka. Ini mengkhawatirkan bagi seluruh dunia. Bagaimana nanti kalau Thailand dan Vietnam sudah tidak mau mengekspor beras mereka, bagaimana nasib warga negara lain yang selama ini selalu impor beras dari dua negara tersebut. Begitu juga LPG sudah ada rencana negara penghasil LPG untuk tidak menjual ke negara lain,” terangnya.

Lebih lanjut, dia menerangkan, bahwa terjadi pergeseran global saat ini. Dulu negara-negara berlomba-lomba untuk menjual atau ekspor, sekarang semua menahan diri untuk menjual karena memikirkan kebutuhan dalam negaranya. Hal tersebut dapat mengkhawatirkan dunia saat ini. Ditambah inflasi yang tinggi. Maka tidak ada pilihan bagi petani Indonesia dan Kabupaten Sintang khususnya untuk terus menerus menanam dan menanam padi dan sumber pangan lainnya.

“Sintang beberapa tahun ini sedang giatnya mencanangkan untuk bisa mandiri di 3 komoditas holtikultura  yakni sawi. Soal pupuk subsidi yang langka, bukan hanya terjadi di Kabupaten Sintang saja, di Pulau Jawa pun langka. Penyebabnya adalah bahan baku produksi pupuk bersubsidi masih banyak yang impor dari negara lain. Bahan bakunya tidak semuanya ada di Indonesia, tetapi ada di Rusia dan Ukraina. Ini masalahnya. Mereka disana menahan untuk ekspor sehingga harganya mahal dan langka,” jelasnya.

“Maka Bapak Menteri Pertanian memberikan instruksi kepada semua pihak untuk memanfaatkan kearifan lokal seperti  membuat kompos. Bahan baku membuat kompos banyak di Kabupaten Sintang ini. Hanya memerlukan pekerjaan yang ekstra. Pupuk kimia, 2 tahun ke depan akan sulit. Mengharapkan pupuk non subsidi, harganya luar biasa tinggi. Seperti harga pupuk mahkota harganya 600-700 ribu per karung. Dulu harganya 300 ribuan saja. Inilah mirisnya kondisi pupuk di daerah kita,” sambungnya.

Dia mengungkapkan, rasa bangga dengan para petani. Di saat krisis dan inflasi yang tinggi, para petani lah yang bisa menyelamatkan negara dan masyarakat.

“Petani menjadi tulang punggung ekonomi negara kita. Itulah kebahagiaan petani kita, petani bisa membawa ekonomi kita kearah yang lebih baik,” pungkasnya.

Read Previous

Abon Lele Sintang Tembus Pasar Nasional

Read Next

Pj Bupati Samuel Sampaikan Pembekalan Calon Kades